SIDOARJO, TEROPONGMEDIA.ID — Di antara tumpukan beton dan besi yang telah menjadi “kuburan massal”, sorot lampu menerangi siluet para petugas yang tak kenal lelah di atas reuntuhan bangunan musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran Sidoarjo, Jatim.
Hari ketujuh operasi pencarian di Ponpes Al Khoziny menemukan 16 jenazah, menggenapkan total korban menjadi 157 orang yang terdiri 104 selamat dan 53 meninggal.
On Scene Commander (OSC) Nanang Sigit P.H., wajahnya terlihat lelah namun penuh tekad, memaparkan betapa sulitnya proses evakuasi hari itu.
“Tim SAR perlu mengangkat puing-puing reruntuhan, memotong rangka-rangka besi, baru kemudian bisa mengevakuasi korban dari timbunan material,” ujarnya di Posko SAR gabungan, Minggu (5/10/2025) malam.
Deru Alat Berat dan Tenaga Manual
Di lapangan, sebuah koreografi penyelamatan yang rumit terlihat jelas. Ekskavator dengan hati-hati mengangkat balok beton besar, membuka jalan bagi petugas yang siap menerobos dengan peralatan ekstrikasi.
Bunyi mesin pemotong besi memecah kesunyian malam, menyambangi rangka-rangka bangunan yang menjebak korban.
“Kami harus bergantian antara penggunaan alat berat dan evakuasi manual. Keselamatan petugas tetap jadi prioritas utama,” tegas Nanang.
Menurutnya, tim menekankan prinsip keselamatan yang tak bisa ditawar dalam operasi berisiko tinggi ini. Setiap potongan material yang diangkat adalah sebuah harapan, namun juga ancaman jika tidak ditangani dengan tepat.
Pengabdian Total
Setiap jenazah yang berhasil dievakuasi menjadi tugas suci yang harus diselesaikan dengan penuh hormat.
Petugas dengan cermat mengangkat korban ke atas tandu, membungkusnya dengan kain morjadi, sebelum membawanya keluar dari reruntuhan. Proses yang memakan waktu dan menguras tenaga ini dilakukan dengan ketekunan yang sama untuk korban pertama hingga korban ke-16 malam itu.
Seluruh jenazah kemudian segera dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya, tempat Tim DVI Polda Jawa Timur menunggu untuk melakukan proses identifikasi—tugas akhir untuk memulangkan mereka yang telah pergi kepada keluarganya.
Di balik angka 16 korban yang berhasil dievakuasi pada hari itu, tersimpan kisah tentang ribuan jam kerja, keringat, dan keteguhan hati para pahlawan tanpa jubah. Mereka adalah simbol totalitas dalam setiap detik perjuangan, mengajarkan pada kita semua tentang makna sebenarnya dari kata “hingga batas kemampuan”.
BACA JUGA
10 Korban Masih Tertimbun, BNPB: Pesantren Ambruk Sidoarjo Musibah Terparah Sepanjang 2025
Proses Identifikasi Berlapis Korban Tragedi Ponpes Al Khoziny, dari Antemortem hingga Sampel DNA
Temuan 16 Korban dalam 11 Jam
Proses evakuasi korban runtuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny menunjukkan intensitas yang tinggi sepanjang hari. Berdasarkan data operasi di lapangan, rangkaian penemuan korban berlangsung sejak pagi hingga malam hari, dengan total 16 korban berhasil dievakuasi pada hari tersebut.
Kronologi penemuannya adalah sebagai berikut:
- Korban ke-51 (bagian tubuh) ditemukan pada pukul 10.52 WIB.
- Korban ke-52 ditemukan pada pukul 11.45 WIB.
- Korban ke-53 ditemukan pada pukul 14.25 WIB.
- Korban ke-54 ditemukan pada pukul 15.02 WIB.
- Korban ke-55 ditemukan pada pukul 15.15 WIB.
- Korban ke-56 ditemukan pada pukul 15.28 WIB.
- Korban ke-57 ditemukan pada pukul 15.40 WIB.
- Korban ke-58 ditemukan pada pukul 16.03 WIB.
- Korban ke-59 ditemukan pada pukul 19.04 WIB.
- Korban ke-60 ditemukan pada pukul 19.24 WIB.
- Korban ke-61 ditemukan pada pukul 19.28 WIB.
- Korban ke-62 ditemukan pada pukul 19.32 WIB.
- Korban ke-63 ditemukan pada pukul 20.28 WIB.
- Korban ke-64 ditemukan pada pukul 20.33 WIB.
- Korban ke-65 (bagian tubuh) ditemukan pada pukul 21.01 WIB.
- Korban ke-66 ditemukan pada pukul 21.47 WIB.
Selama proses pencarian yang menegangkan di atas reruntuhan bangunan Ponpes Al Khoziny ini, tim SAR gabungan mengerahkan alat berat dan peralatan ekstrikasi untuk memotong serta mengangkat material bangunan.
Untuk memastikan keselamatan petugas dan keamanan proses, penggunaan alat berat dilakukan secara bergantian dengan metode manual.
(Aak)











