Perang Narkoba Hanya Akal Bulus, Trump Tangkap Meduro Incar Minyak Venezuela!

serangan AS ke Venezuela. cadangan minyak Venezuela
Donald Trump menonton langsung operasi penangkapan Maduro. ( Donald Trump/TruthSocial)
-

Tidak ada video disisipkan.

JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Presiden AS Donald Trump justru mengungkapkan motif sebenarnya penangkapan dramatis Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat (AS). Bukan narkoba, melainkan penguasaan cadangan minyak terbesar di dunia milik Venezuela.

Melansir Aljazeera, Minggu (4/1/2026), retorika Washington yang mengemas pemberantasan jaringan narkotika berubah tajam hanya beberapa jam setelah operasi militer berlangsung. Pernyataan Trump pasca-penangkapan mengindikasikan bahwa isu narkoba hanyalah pintu masuk untuk agenda geopolitik dan energi yang lebih besar.

Operasi Anti Narkoba ke Kontrol Negara

Serangan yang digelar di Caracas pada Sabtu itu awalnya disebut sebagai operasi untuk menangkap “dua buronan kasus terorisme narkoba”. Namun, operasi tersebut dilaporkan menewaskan puluhan orang dan memicu kecaman internasional.

Tak lama setelahnya, Trump tampil dalam konferensi pers di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, dengan pernyataan yang mengejutkan.

Ia menyebut, Amerika Serikat akan “menjalankan Venezuela untuk sementara waktu”, dengan fokus utama membangun kembali sektor energi dan mengelola kekayaan minyak negara tersebut.

Bahlan, Trump menyebut minyak Venezuela akan diekspor ke pasar global, termasuk ke China dan Rusia, dua negara yang selama ini kerap diposisikan sebagai rival strategis AS.

“Jika Anda ingat, mereka mengambil semua hak energi kita. Mereka mengambil semua minyak kita. Dan kita menginginkannya kembali,” ujar Trump, merujuk pada kebijakan nasionalisasi industri minyak Venezuela yang pernah mengusir perusahaan-perusahaan energi asal AS.

Cadangan Minyak Terbesar Dunia

Venezuela diketahui terbukti memiliki cadangan minyak sekitar 303 miliar barel, menjadikannya negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, melampaui Arab Saudi. Kekayaan inilah yang diyakini menjadi alasan utama di balik manuver Washington.

Trump bahkan mengklaim, hasil eksploitasi minyak Venezuela nantinya akan digunakan untuk menutup biaya operasi militer AS, sekaligus mengganti kerugian yang menurutnya pernah ditimbulkan Caracas terhadap Washington.

Sejak lama, Maduro membantah tuduhan keterlibatan dalam jaringan narkoba. Ia menyebut tuduhan tersebut sebagai “kuda Troya” yang digunakan AS untuk melemahkan kedaulatan Venezuela dan menguasai sumber daya alam strategis negara itu.

Baca Juga:

Venezuela Punya Cadangan Minyak Terbesar di Dunia, Ini Dampaknya ke Indonesia

Prabowo Sebut Indonesia Bisa Jadi Negara Keempat Terkaya Dunia, Tapi Ada Syaratnya

Delcy Rodriguez Jadi Figur Kunci

Pasca-penangkapan Maduro, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara. Rodriguez bukan figur sembarangan.

Ia merangkap sebagai Menteri Keuangan sekaligus Menteri Perminyakan, sehingga memegang kendali langsung atas sektor energi Venezuela.

Menariknya, Trump secara terbuka mengisyaratkan kesediaan bekerja sama dengan Rodriguez, selama ia bersedia mengikuti kepentingan AS, khususnya terkait pengelolaan minyak.

Sebaliknya, Trump justru menolak mendukung tokoh oposisi pro-Barat Maria Corina Machado, dengan alasan ia tidak memiliki legitimasi kuat di mata rakyat Venezuela. Sikap ini mempertegas bahwa prioritas AS bukan demokratisasi, melainkan stabilitas akses terhadap sumber daya energi.

Ancaman Serius bagi OPEC dan Iran

Jika Amerika Serikat benar-benar berhasil mengendalikan produksi minyak Venezuela, dampaknya akan meluas ke pasar energi global. Saat ini, akibat sanksi dan kerusakan infrastruktur, produksi minyak Venezuela hanya berada di kisaran 500 ribu barel per hari (bpd).

Namun, mantan penasihat ekonomi Venezuela Francisco Rodriguez memperkirakan produksi bisa melonjak hingga 2,5 juta bpd dalam 3–5 tahun apabila sanksi dicabut dan investasi asing kembali masuk.

Bagi OPEC, skenario ini menjadi ancaman serius. Tambahan pasokan besar di bawah pengaruh AS berpotensi mengguncang keseimbangan harga minyak global yang selama ini dijaga ketat.

Bahkan, Negara-negara seperti Iran dan Arab Saudi juga berisiko kehilangan pangsa pasar sekaligus pengaruh geopolitik.

(Dist)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
OJK Jabar
Penipuan Investasi Mantan Pegawai Bank Mandiri Taspen di Purwokerto, OJK Minta Korban Segera Melapor
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
maroko brazil
Prediksi Skor Maroko vs Norwegia: Duel Dua Tim Kuda Hitam Piala Dunia 2026
Berita Lainnya

1

Threads Melonjak Pesat, Jadi Penantang X Milik Elon Musk

2

3

Brace Cristiano Ronaldo Warnai Kemenangan Al Nassr atas Al Gharafa di Liga Champions Asia

4

Meski Matic, ini Catatan Berkesan BBM Kijang Kapsul LGX

5

Jadwal Adzan Magrib Lombok Hari Ini 17 Maret 2025
Headline
rupiah hari ini
Rupiah Diprediksi Tembus Rp19.000 Akhir Juni 2026, The Fed Jadi Sorotan!
Farhan Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Farhan: Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
dadan
Geser Dadan Hindayana, Prabowo Tunjuk Naniek Deyang Jadi Kepala BGN yang Baru