JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Isu deforestasi terus mengemuka setelah banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Kondisi ini memicu kekhawatiran soal aktivitas pembukaan lahan tanpa kendali yang telah melemahkan fungsi hutan sebagai penyangga alam serta mengurangi daya resap air.
Fenomena ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan laju deforestasi tertinggi di dunia. Menurut laporan World Resources Institute (WRI), beberapa negara dengan hutan hujan tropis mengalami kehilangan tutupan pohon paling luas.
Peringkat 10 Negara dengan Deforestasi Terluas (2001–2024):
1. Rusia
Rusia kehilangan sekitar 88,8 juta hektare hutan sejak 2001. Sebagian besar disebabkan kebakaran hutan di wilayah Boreal, sementara sisanya akibat penebangan. Meskipun sebagian besar kerusakan tidak permanen, risiko kebakaran hutan tetap tinggi.
2. Brasil
Brasil kehilangan sekitar 73,3 juta hektare tutupan pohon. Kerusakan utama berasal dari ekspansi pertanian dan pembukaan lahan di Amazon. Kebakaran pada 2024 kembali memperburuk kondisi hutan.
3. Kanada
Kanada kehilangan 62,6 juta hektare hutan, sebagian besar akibat kebakaran hutan di utara dan penebangan di selatan. Sebagian besar kerusakan bersifat sementara karena regenerasi alami.
4. Amerika Serikat
AS kehilangan 49,3 juta hektare tutupan pohon. Penebangan menjadi faktor utama, sementara urbanisasi menyumbang 3,3% dari total kerusakan. Banyak area dapat pulih melalui reboisasi dan regenerasi.
5. Indonesia
Indonesia kehilangan 32 juta hektare hutan. Deforestasi dipicu industri kelapa sawit, kayu, dan kebakaran yang diperparah fenomena El Nino. Sekitar 78% kerusakan diperkirakan permanen. Kebijakan pemerintah sejak 2017 menurunkan angka kehilangan.
Baca Juga:
Raja Juli Tetap Bungkam Ungkap 12 Perusahaan Pemicu Banjir Sumatera
Jaga Alam! Bibit Siklon Ganda Pemicu Cuaca Ekstrem Dekati Indonesia
6. Republik Demokratik Kongo
Negara ini kehilangan 21 juta hektare hutan, akibat pertanian berpindah, pertumbuhan populasi, dan konflik. Teknologi satelit terbaru mempermudah pendeteksian kehilangan skala kecil.
7. China
China kehilangan 12,8 juta hektare hutan. Meskipun hutan asli menurun, program reboisasi masif berhasil menambah tutupan pohon secara signifikan, meski sebagian besar berupa perkebunan monokultur.
8. Bolivia
Bolivia kehilangan 9,8 juta hektare hutan, dipicu ekspansi pertanian, peternakan, dan kebakaran besar pada beberapa tahun terakhir. Sekitar 58% kerusakan diperkirakan permanen.
9. Malaysia
Malaysia kehilangan 9,5 juta hektare hutan sejak 2001. Industri kelapa sawit dan karet menjadi penyebab utama, dengan sekitar 78% kerusakan permanen. Konversi hutan menjadi perkebunan industri signifikan.
10. Australia
Australia kehilangan 9,2 juta hektare hutan, terutama akibat kebakaran ekstrem dan penebangan. Meski hutan eukaliptus dapat pulih, intensitas kebakaran dan kekeringan berkepanjangan meningkatkan risiko kerusakan permanen.
Fenomena global ini menegaskan bahwa kehilangan hutan bukan sekadar isu lokal melainkan krisis ekologis dunia. Dari Rusia hingga Australia, faktor penyebab beragam mulai dari kebakaran alami, aktivitas manusia, hingga perluasan lahan pertanian. Deforestasi menjadi peringatan bahwa pengelolaan hutan harus dilakukan secara hati-hati, berbasis keberlanjutan, dan melibatkan seluruh pihak agar fungsi ekologis hutan sebagai penyangga kehidupan tetap terjaga.
(Dist)










