BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Musim petenis Amerika Serikat Cori Gauff resmi berakhir setelah ia tersungkur di fase grup WTA Finals 2025 di Riyadh. Upayanya mempertahankan gelar juara berakhir lebih cepat dari harapan, menandai penutupan tahun yang penuh dinamika bagi sang bintang muda tenis dunia.
Gauff, yang datang ke Riyadh sebagai juara bertahan, tak mampu mengulangi keajaiban musim lalu. Kekalahan dari Aryna Sabalenka di laga terakhir Grup Steffi Graf menjadi penentu, sekaligus menyingkirkannya dari turnamen elit yang hanya diikuti delapan petenis terbaik dunia. Ia kalah dua set langsung dari petenis nomor satu dunia itu, 7-6 dan 6-2, dalam laga yang memperlihatkan betapa sulitnya Gauff menemukan konsistensi di momen-momen penting.
Meski sempat mencatat kemenangan meyakinkan atas Jasmine Paolini, dua kekalahan lainnya dari Jessica Pegula dan Sabalenka memastikan langkahnya terhenti di fase grup. Di lapangan, ekspresi kecewa Gauff tampak jelas saat menyalami lawan, namun ia tetap tersenyum kecil, seolah menyadari bahwa musim panjang ini akhirnya usai.
Tersingkirnya Gauff sebenarnya tak terlalu mengejutkan. Sepanjang tahun 2025, perjalanan sang juara French Open itu dihiasi naik-turun performa, terutama akibat masalah pada forehand dan servisnya. Ketidakkonsistenan tersebut membuatnya melakukan langkah ekstrem: memecat sebagian tim pelatih dan mempekerjakan ahli biomekanik Gavin MacMillan hanya beberapa hari sebelum US Open dimulai.
Di usia 21 tahun, tekanan yang ia tanggung tak kecil. Harapan publik Amerika agar ia menjadi penerus Serena Williams menjelma beban mental yang nyata. Namun di balik tersungkurnya Gauff di Riyadh, terselip sisi positif , waktu untuk beristirahat, merefleksikan diri, dan kembali menata arah.
Lewat unggahan Instagram, Gauff menuliskan pesan sederhana namun bermakna.
“Selalu menjadi sebuah kehormatan menjadi bagian dan berkompetisi melawan petenis peringkat 8 besar dunia. Terima kasih, Riyadh.” tulisnya.
Baca JUga:
Alasan Cerdas Cori Gauff Mundur dari Washington Open 2025
Pesan itu menggambarkan kedewasaan seorang petenis muda yang mulai memahami bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses. Kini, tersingkir lebih awal memberinya kesempatan untuk berfokus membangun kembali ritme permainan dan memperkuat sisi mental yang kerap menjadi titik lemah di momen krusial.
Sementara itu, Aryna Sabalenka mengakui bahwa pertarungannya melawan Gauff jauh dari mudah. Dalam wawancara usai laga, petenis asal Belarus itu mengungkap bahwa ia sempat kehilangan harapan di awal set pertama.
“Saya sudah mempersiapkan diri untuk set kedua, jujur saja. Tapi kemudian saya menemukan ritme servis saya dan bisa membalikkan keadaan. Game itu seperti memberi suntikan energi baru,” ujar Sabalenka.
Tersungkur di Riyadh bukanlah akhir bagi Cori Gauff, melainkan pengingat bahwa jalan menuju puncak tidak selalu mulus. Dengan talenta besar dan kemauan untuk beradaptasi, musim 2026 bisa menjadi babak kebangkitan bagi petenis muda yang masih dipercaya sebagai masa depan tenis putri Amerika.
(Budis)







