JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Pasar emas global dengan sentimen yang sangat kuat mengawali tahun 2026. Meski sempat mengalami koreksi dalam beberapa sesi perdagangan, harga emas secara umum menunjukkan tren menguat dan kini berada di ambang rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan data Kitco, Senin (12/1/2026), harga emas spot membuka pekan lalu di kisaran USD 4.370 per ounce. Tak butuh waktu lama, hanya dalam dua jam setelah perdagangan dimulai, emas langsung menembus level psikologis USD 4.400 per ounce.
Penguatan tersebut menandai minat beli yang masih sangat solid di kalangan investor global.
Harga emas sempat bergerak mendekati USD 4.440 per ounce, sebelum mengalami koreksi terbatas untuk menguji area dukungan di sekitar USD 4.400. Namun, tekanan jual relatif singkat. Permintaan kembali menguat dan membawa emas mencetak puncak jangka pendek di kisaran USD 4.450 per ounce.
Momentum berlanjut saat sesi Asia dibuka, mendorong harga emas naik hingga USD 4.470 per ounce. Penguatan tersebut hampir berlanjut ke level USD 4.500, yang selama ini menjadi batas psikologis utama bagi pelaku pasar.
Pada pertengahan pekan, emas sempat mengalami koreksi ke kisaran USD 4.444 hingga USD 4.426 per ounce. Meski demikian, level USD 4.400 kembali menunjukkan perannya sebagai area support yang kuat. Kondisi ini mengindikasikan bahwa minat beli belum melemah secara signifikan.
Memasuki Kamis, harga emas kembali bangkit dan bertahan di atas USD 4.470 per ounce. Pasar kemudian bersiap menyambut rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan nonfarm payrolls bulan Desember. Data yang dirilis relatif sesuai ekspektasi, namun cukup untuk memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve masih berada di jalur pelonggaran kebijakan moneter.
Sentimen tersebut mendorong harga emas akhirnya menembus USD 4.500 per ounce pada Jumat. Hingga akhir pekan, pergerakan harga cenderung stabil di level tinggi, menandakan konsolidasi sehat setelah reli panjang.
Survei mingguan Kitco News menunjukkan optimisme yang sangat kuat. Dari 16 analis Wall Street yang berpartisipasi, 14 analis atau 88 persen memprediksi harga emas akan terus naik dalam sepekan ke depan.
Sementara itu, dari 268 investor ritel, 69 persen menyatakan pandangan bullish.
Baca Juga:
China Makin Agresif ke Indonesia, Airlangga Buka Pintu Lebar
Purbaya Bakal Beri Pendampingan Hukum Para Tersangka KPK OTT Pajak Jakut
Analis pasar senior Barchart, Darin Newsom, menilai tren kenaikan emas masih sangat solid.
Ia menyebut pasar yang sedang berada dalam tren kuat cenderung akan melanjutkan arah pergerakannya selama tidak ada faktor eksternal besar yang mengubah sentimen.
Pandangan serupa disampaikan Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan. Menurutnya, faktor fundamental yang menopang harga emas belum berubah. Pembelian emas oleh bank sentral masih berlanjut, ketegangan geopolitik global di sejumlah kawasan masih tinggi, sementara kepercayaan terhadap mata uang fiat, khususnya dolar AS, terus tergerus.
Analis Forex, James Stanley, juga menilai bahwa setiap koreksi harga emas sejauh ini selalu mendapatkan respons beli yang kuat. Hal ini menjadi sinyal bahwa reli belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Meski demikian, tidak semua pihak sepenuhnya optimistis. CPM Group mengeluarkan rekomendasi jual jangka pendek dengan target awal USD 4.385 per ounce, dengan alasan potensi aksi ambil untung setelah reli panjang.
Namun, mereka tetap menilai dalam jangka menengah hingga akhir kuartal pertama 2026, harga emas masih berpeluang kembali menguat seiring berlanjutnya risiko politik dan ekonomi global.
(Dist)










