JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Lonjakan performa Janice Tjen dalam satu tahun terakhir tidak hanya mengguncang peta tenis nasional, tetapi juga mencuri perhatian media asing yang melihat kemunculannya sebagai penanda era baru bagi olahraga Indonesia.
Dalam berbagai pemberitaan internasional, nada yang sama muncul berulang ulang bahwa Janice bukan sekadar talenta muda, melainkan simbol kebangkitan Indonesia di panggung global.
Reuters melaporkan pada Selasa (18/11/2025), mengenai keberhasilan Janice menembus babak awal US Open. Media internasional tersebut langsung menempatkan pencapaiannya dalam perspektif sejarah: kemenangan Grand Slam pertama bagi Indonesia dalam lebih dari dua dekade.
Pemberitaan itu memicu narasi besar bahwa Indonesia kembali memiliki petenis yang mampu bersaing di panggung utama setelah sekian lama tanpa figur dominan.
Keesokan harinya, gelombang pujian datang dari arah berbeda. Reuters kembali menyoroti Janice setelah Emma Raducanu, yang mengalahkannya di babak berikutnya, mengaku terkesan dengan gaya bermain sang petenis Indonesia.
Bahkan, Raducanu menyebut Janice sebagai pemain yang “super dangerous”, sebuah penilaian yang jarang diberikan pemain top kepada pendatang baru. Pernyataan itu mempertegas bahwa performa Janice bukan hasil momentum sesaat, tetapi representasi kemampuan yang mampu membuat lawan waspada.
Citra Janice sebagai rising star semakin kuat ketika WTA Tennis merilis analisis mendalam mengenai kiprahnya di Chennai Open. WTA menekankan betapa uniknya lintasan karier Janice yang memulai musim dari level ITF, lalu menutup tahun dengan gelar ganda sekaligus tunggal WTA—gelar WTA pertama untuk Indonesia dalam lebih dari 20 tahun.
WTA menyebut perjalanan Janice sebagai salah satu “kisah kebangkitan terbaik musim ini”.
Baca Juga:
Sorotan itu semakin menguat setelah media India, termasuk Times of India, menempatkan kemenangan Janice di Chennai sebagai “penutup musim impian”. Mereka menekankan bahwa gelar tersebut diraih di turnamen yang dipenuhi pemain berpengalaman, sehingga pencapaian Janice bukan hanya mengejutkan, tetapi juga mengukuhkan kebangkitan tenis Asia Tenggara.
Di sisi lain, The Guardian memberikan analisis teknis dengan membandingkan gaya bermain Janice dengan Ash Barty—kombinasi topspin dan slice yang membuatnya sulit ditebak dan menimbulkan masalah bagi banyak lawan.
Tak berhenti di situ, The Southeast Asia Desk menggambarkan kemunculan Janice sebagai sinyal perubahan bagi kawasan. Menurut mereka, pemain-pemain muda dari wilayah yang selama ini jarang tampil di daftar unggulan kini mulai memasuki percakapan global.
Mereka menilai pencapaian Janice berpotensi menjadi pemantik bagi negara Asia Tenggara lainnya untuk kembali membangun kultur tenis kompetitif.
Dari keseluruhan pemberitaan asing tersebut, terdapat satu benang merah: Indonesia kembali disebut dalam diskusi tenis internasional. Setelah puluhan tahun tanpa sosok yang benar-benar bersinar di level elite, kehadiran Janice Tjen membawa identitas baru bagi tenis Indonesia sekaligus memperkaya persaingan di WTA tour.
(Dist)









