JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID – Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag) RI menyatakan bahwa posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia untuk penentuan 1 Syawal 1447 H saat ini masih berada di bawah kriteria visibilitas yang ditetapkan oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Data Astronomi Hilal di Indonesia
Berdasarkan paparan pakar Kemenag, Cecep Nurwendaya, data posisi hilal di Indonesia saat ini adalah:
- Tinggi Hilal: Berkisar antara 0,91° hingga 3,13°.
- Elongasi: Berada pada rentang 4,54° hingga 6,10°.
Sebagai perbandingan, standar MABIMS mengharuskan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat agar bulan baru dianggap sudah tampak secara ilmiah (visibilitas).
Mengapa Angka Ini Penting?
Cecep menjelaskan bahwa dua parameter tersebut sangat krusial karena:
- Cahaya Senja (Syafaq)
Jika posisi hilal terlalu rendah, cahayanya yang lemah akan kalah oleh pendar cahaya merah matahari terbenam.
- Ketebalan Hilal
Elongasi menentukan seberapa tebal sabit bulan. Jarak di bawah 6,4 derajat dinilai terlalu tipis untuk dapat dilihat dengan mata telanjang maupun alat bantu.
“Kesimpulannya, seluruh ibu kota provinsi di NKRI tidak memenuhi kriteria MABIMS untuk awal bulan Syawal 1447 Hijriah,” ujar Cecep dalam seminar di Jakarta, Kamis (19/3/2026).
Meski secara perhitungan astronomi (hisab) posisi hilal belum memenuhi syarat, hasil ini tetap harus divalidasi melalui Rukyatul Hilal (pengamatan lapangan) yang dilakukan di 117 titik di seluruh Indonesia. Hasil akhir mengenai penetapan Idulfitri akan diputuskan secara resmi melalui Sidang Isbat yang digelar Kemenag malam ini.










