BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Di tengah perbukitan hijau Sukabumi, sekitar 28 kilometer dari hiruk-pikuk Pelabuhan Ratu, sebuah kampung berdiri seolah tak tersentuh oleh waktu. Kampung Adat Ciptagelar atau yang akrab disebut Tatanan Kasepuhan Ciptagelar, bukan sekadar sebuah destinasi, melainkan ruang hidup sebuah masyarakat yang setia menjaga laku Sunda sejak lebih dari lima abad lalu.
Begitu memasuki kawasan Kampung Sukamulya, Desa Simaresmi, Cisolok, pengunjung disambut suasana yang terasa berbeda. Angin membawa aroma kayu, tanah basah, dan padi yang menguning, bunyi percakapan lembut dalam bahasa Sunda kuno seakan memanggil kembali pada masa ketika kehidupan berjalan pelan, mengikuti alam dan petuah leluhur.
Kasepuhan ini dihuni sekitar 29 ribu warga yang hidup dari tanah yang mereka garap sendiri. Pertanian bukan sekadar mata pencaharian, melainkan denyut kehidupan. Di sini, padi bukan hanya bahan pangan, tetapi pusaka “indung hurip” yang dihormati seperti nyawa.
Tidak heran sistem ketahanan pangan mereka telah menjadi perhatian banyak peneliti dan wisatawan mancanegara. Mereka menolak pestisida, tetap setia pada pupuk organik, dan memanen seperlunya. Melimpahnya beras disimpan dengan cermat dalam lumbung tradisional, memastikan masyarakatnya tidak pernah kekurangan.
Baca Juga:
Masyarakat Ciptagelar percaya bahwa hidup harus selaras dengan alam. Keyakinan ini diwariskan sejak pendirinya, Pangeran Raksabumi, putra Prabu Siliwangi, yang membangun kampung ini pada abad ke-16. Hingga hari ini, masyarakatnya tetap mengenakan pakaian adat Sunda dalam keseharian, tetap berbahasa Sunda kuno, dan tetap menjalani tata kehidupan yang jauh dari gaya hidup modern.
Meski bukan tempat wisata dalam arti komersial, Ciptagelar tak pernah sepi tamu. Setiap tahun ribuan orang datang, baik dari kota-kota besar Indonesia maupun dari berbagai negara, untuk menyaksikan kekayaan budaya yang tetap hidup di kampung ini. Setidaknya ada 30 rangkaian upacara adat yang mengatur ritme kehidupan masyarakat dari kelahiran hingga kematian.
Namun puncak dari segala ritual adalah Seren Taun, upacara syukur panen padi yang digelar antara November hingga Desember. Pada hari itu, Ciptagelar berubah menjadi panggung hikmat dan sukacita. Musik tradisional bergema, para sesepuh menyampaikan petuah, dan masyarakat berkumpul untuk menghaturkan rasa terima kasih kepada alam.
Bagi banyak pengunjung, Seren Taun bukan hanya pertunjukan budaya, melainkan pengalaman spiritual yang membekas lama setelah mereka kembali ke rumah.
Di saat banyak desa adat perlahan berubah atau menghilang, Ciptagelar tetap setia pada dirinya sendiri. Kampung ini berdiri sebagai bukti bahwa nilai-nilai leluhur, jika dirawat dengan cinta dan rasa tanggung jawab bisa terus hidup di tengah perubahan zaman.
Kampung Adat Ciptagelar bukan hanya kekayaan budaya Indonesia, ia adalah suara masa lalu yang masih berbisik lembut di telinga dunia.
(Budis)











