BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Bagi masyarakat Sunda, suara angklung bukan sekadar bunyi bambu yang digoyang. Lebih dari itu, angklung adalah suara alam, suara masyarakat, bahkan suara sejarah yang masih terus bergema hingga hari ini.
Namun sedikit yang tahu, kesenian ini memiliki perjalanan panjang yang sarat nilai budaya, spiritualitas, hingga perjuangan identitas. Angklung dikenal sebagai alat musik tradisional yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara digoyang.
Instrumen ini telah menjadi simbol kebudayaan masyarakat Sunda sejak zaman dahulu. Dalam catatan sejarah, angklung bukan hanya berperan sebagai alat musik, tetapi juga sebagai media komunikasi masyarakat dengan alam dan leluhur.
Perjalanan Sejarah Angklung
Menurut kajian Rosyadi (2012) dalam Journal of Historical and Cultural Research, angklung tradisional awalnya digunakan dalam ritual agraris, khususnya untuk memohon kesuburan tanaman dan kelancaran panen kepada dewa atau kekuatan alam yang dipercaya.
Di masa pra-kolonial, suara angklung dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Ia kerap dimainkan dalam upacara-upacara adat seperti Seren Taun di Kasepuhan Banten Kidul atau dalam pesta panen di wilayah Priangan. Getarannya diyakini mampu “membangunkan” roh-roh alam agar ikut menjaga hasil pertanian masyarakat.
Maka tak heran, banyak angklung tradisional dibuat secara sakral, bahkan ada yang disimpan khusus dan hanya dimainkan oleh tokoh adat atau tetua kampung. Masuknya kolonialisme Belanda turut memengaruhi bentuk dan fungsi angklung. Pada masa itu, pemerintah kolonial sempat melarang pertunjukan angklung karena dianggap bisa memicu semangat kebangkitan rakyat.
Namun larangan ini justru mendorong masyarakat untuk memodifikasi bentuk pertunjukan agar lebih tersembunyi, sekaligus menjadikan angklung sebagai simbol perlawanan budaya. Beberapa komunitas bahkan mulai mengembangkan sistem nada pentatonik yang lebih harmonis agar bisa tampil dalam konteks hiburan yang lebih luas.
Transformasi besar terjadi pada awal abad ke-20, saat Daeng Soetigna, seorang guru musik asal Garut, menciptakan angklung dengan sistem nada diatonik. Inovasi ini memungkinkan angklung dimainkan bersama alat musik modern, termasuk dalam format orkestra. Sejak saat itu, angklung tidak hanya tampil di lingkungan lokal, tetapi mulai merambah panggung nasional hingga internasional.
Murwaningrum (2017) dalam Jurnal Ilmiah Bambu Awilaras, mencatatkan bahwa angklung Daeng Soetigna menjadi jembatan penting dalam upaya modernisasi alat musik tradisional tanpa kehilangan akarnya.
Namun perjalanan angklung bukan tanpa tantangan. Seiring berkembangnya media digital dan gaya hidup modern, minat generasi muda terhadap alat musik tradisional sempat menurun drastis. Banyak sekolah dan komunitas budaya yang mulai kehilangan pemain angklung karena dianggap kuno dan tidak relevan.
Padahal, seperti dicatat oleh Sumaludin (2022) dalam Journal of History Education, angklung memiliki potensi besar sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal yang mampu menanamkan nilai budaya, kebersamaan, dan kearifan lokal kepada generasi muda.
Upaya pelestarian terus dilakukan melalui jalur pendidikan dan diplomasi budaya. Pemerintah daerah Jawa Barat, bersama berbagai komunitas seni, mulai memasukkan angklung dalam kurikulum muatan lokal. Festival-festival angklung juga digelar secara rutin untuk menarik minat anak muda.
BACA JUGA
Seni Bangklung yang Masih Digandrungi Masyarakat Garut
Tarawangsa: Dimensi Kosmologis yang Bukan Sekedar Karya Seni dalam Budaya Sunda
Salah satu pencapaian tertinggi adalah ketika angklung diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada tahun 2010, sebuah pengakuan dunia atas nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Kini, angklung tak lagi hanya dimainkan di kampung-kampung atau upacara adat. Ia sudah menjadi alat diplomasi budaya Indonesia di berbagai negara. Dari sekolah dasar hingga universitas, dari panggung kecil di desa hingga pertunjukan kenegaraan, suara angklung terus bergema sebagai tanda bahwa kebudayaan lokal tidak pernah benar-benar mati—selama masih ada yang bersedia menghidupkannya.
Di balik getarannya yang sederhana, angklung menyimpan warisan panjang tentang relasi manusia dengan alam, komunitas, dan sejarah. Ia bukan sekadar alat musik bambu, tetapi pengingat bahwa kearifan lokal punya kekuatan untuk bertahan, beradaptasi, bahkan mendunia.
(Daniel Oktorio Saragih/Magang/Aak)











