BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Ketegangan jelang UFC 322 semakin memuncak, dan penyebabnya tak lain adalah Ilia Topuria. Juara tak terkalahkan kelas bulu UFC itu kembali menyalakan api rivalitas dengan Islam Makhachev, bahkan sebelum sang juara lightweight naik ke kelas welter untuk menghadapi Jack Della Maddalena.
Topuria, yang dikenal dengan gaya bicara blak-blakan, melontarkan komentar pedas yang langsung mengguncang dunia MMA.
Dalam wawancara yang dikutip dari Championship Rounds by BetssonSport, Topuria ditanya apakah ia masih tertarik menghadapi Makhachev andai petarung asal Dagestan itu kalah di UFC 322.
“Kalau Islam kalah, dia bisa pulang ke Dagestan dan menggembalakan dombanya,” katanya, dikutip Minggu (19/10/2025).
Ucapan itu langsung viral di media sosial, bukan hanya karena ketajamannya, tapi juga karena timing-nya yang strategis. Topuria seolah memainkan perang psikologis (psy war) kelas tinggi, menekan mental Makhachev bahkan sebelum Octagon ditutup.
Bagi Topuria, komentar itu bukan sekadar ejekan. Ia mengirim pesan terselubung bahwa kejayaan Makhachev hanya sah selama ia terus menang. Sekali kalah, aura dominasi sang juara seolah akan pudar.
Dengan kata lain, Topuria ingin membalikkan posisi dari penantang potensial menjadi sosok yang menentukan nilai dan reputasi lawannya.
Langkah ini mengingatkan publik pada gaya provokatif Conor McGregor di masa jayanya. Bedanya, Topuria melakukannya dengan ketenangan dan perhitungan. Ia tahu bahwa psy war bisa mengubah momentum, mengganggu fokus lawan, dan membentuk narasi sebelum bel pertama berbunyi.
Baca Juga:
UFC 322 Jack Della Maddalena vs Islam Makhachev, Robert Whittaker: Islam Bisa Kehilangan Segalanya
Di sisi lain, Makhachev dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan jarang terpancing emosi. Namun serangan verbal Topuria kali ini menempatkannya dalam dilema, membalas berarti memberi panggung, sementara diam berarti membiarkan publik berpihak pada Topuria.
Para penggemar pun terbelah. Sebagian menilai langkah Topuria sebagai strategi jenius untuk “menguasai pikiran” Makhachev, sementara lainnya menganggapnya sebagai bentuk kesombongan yang tak perlu.
“Dia tahu betul cara memainkan permainan ini,” tulis seorang fans di X.
“Bahkan tanpa bertarung, Topuria sudah memimpin di babak mental,” tulisnya lagi.
Apapun hasilnya, satu hal jelas: UFC 322 kini bukan sekadar pertarungan fisik, tapi juga adu strategi mental.
Jika Makhachev menang, ia akan membungkam keraguan dan membalikkan cemooh menjadi pembuktian. Tapi jika ia kalah, maka ucapan Topuria akan terdengar seperti ramalan yang terwujud, menutup pintu duel impian yang selama ini diidamkan para penggemar.
Ilia Topuria tahu persis apa yang ia lakukan, dan sebelum satu pukulan pun dilepaskan, ia sudah memenangkan perang di kepala lawannya.
(Budis)








