JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Dugaan pencemaran lingkungan kembali mencuat di Situ Citongtut, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ribuan ikan ditemukan mati mengapung di permukaan air, memicu kecurigaan adanya pembuangan limbah pabrik secara ilegal.
Komunitas lingkungan Gerakan Pungut Sampah (GPS) menyebut peristiwa tersebut terjadi sekitar dua hari sebelum laporan dibuat. Kematian massal ikan ini dinilai bukan kejadian baru, melainkan pengulangan dari pola pencemaran yang sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Dugaan Limbah Dibuang Saat Hujan
Perwakilan GPS Aditya Putra mengatakan, pencemaran diduga kuat terjadi saat hujan deras. Menurutnya, kondisi debit air yang meningkat kerap dimanfaatkan untuk menyamarkan pembuangan limbah agar tidak mudah terdeteksi.
“Biasanya dilakukan malam hari ketika hujan. Air sungai atau situ sedang naik, jadi limbahnya sulit terlihat,” ujar Aditya, Minggu (25/1/2026).
Ia menjelaskan, praktik tersebut jarang terjadi pada musim kemarau karena kondisi air relatif jernih, sehingga pencemaran akan langsung terlihat secara kasat mata.
Puluhan Perusahaan Disorot
Aditya menyebut terdapat sekitar 23 perusahaan di sekitar kawasan Situ Citongtut yang memiliki saluran pembuangan air menuju lokasi tersebut. Dari jumlah itu, GPS menduga tidak semuanya memiliki sistem pengelolaan limbah yang memadai.
Sebagian perusahaan diketahui menggunakan jasa pihak ketiga untuk pengolahan limbah. Namun, menurut GPS, masih ada yang diduga langsung membuang limbah ke aliran air tanpa melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL) atau water treatment plant (WTP) yang sesuai standar.
“Sebagian memang lewat pihak ketiga, tapi masih ada yang langsung dibuang. Praktik seperti ini biasanya dilakukan diam-diam,” kata Aditya.
Ikan Paling Tahan Ikut Mati
Dampak pencemaran kali ini dinilai cukup serius. GPS mencatat, jenis ikan yang paling banyak ditemukan mati adalah ikan sapu-sapu, disusul lele, gabus, mujair, sepat, dan betok.
Padahal, ikan sapu-sapu dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap kualitas air yang buruk. Menurut GPS, kematian jenis ikan tersebut menjadi indikator kuat bahwa kandungan zat berbahaya di air cukup tinggi.
“Kalau ikan yang dikenal paling kuat saja sampai mati, berarti tingkat racunnya sangat tinggi,” ujar Aditya.
Jumlah ikan mati diperkirakan mencapai ribuan ekor, meski sebagian ikan masih terlihat bertahan hidup dengan berpindah ke area yang dianggap lebih aman.
Baca Juga:
Dedi Mulyadi Siapkan Bantuan Rp10 Juta per KK untuk Pengungsi Longsor Cisarua
Dedi Mulyadi Kritik Keras Pemkab Bandung Barat Usai Longsor Cisarua
Kejadian Berulang
GPS mencatat, kasus kematian ikan di Situ Citongtut pernah terjadi beberapa kali pada 2021 dan 2022. Kondisi sempat membaik pada 2023 dan 2024, sebelum kembali muncul pada 2025 meski dalam skala kecil.
Pada 2026, dampak pencemaran kali ini disebut sebagai salah satu yang paling parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Belum Ada Pemeriksaan Resmi
Hingga hari keempat setelah kejadian, GPS menyayangkan belum terlihat adanya langkah konkret dari instansi terkait. Menurut mereka, belum ada pemeriksaan kualitas air maupun pengujian baku mutu yang dilakukan di lokasi.
“Kami belum melihat adanya uji kualitas air atau investigasi di lapangan,” kata Aditya.
GPS mendesak pemerintah daerah dan instansi berwenang untuk segera melakukan investigasi menyeluruh, menguji kualitas air Situ Citongtut, menelusuri sumber pencemaran, serta menjatuhkan sanksi tegas kepada pihak yang terbukti melanggar aturan lingkungan.
(Dist)











