JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Peristiwa mencekam terjadi di Desa Tanjung Raya, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue, Aceh. Sebuah rumah milik mantan tenaga pendidik, Ralimansia, hangus terbakar pada malam Idulfitri 1447 Hijriah.
Kebakaran yang datang di saat warga tengah merayakan malam kemenangan itu menyisakan tanda tanya besar. Api melalap rumah ketika korban dan keluarganya tengah terlelap. Beruntung, seluruh penghuni berhasil menyelamatkan diri sebelum kobaran api semakin membesar.
Kepolisian langsung turun tangan. Dugaan awal mengarah pada kemungkinan adanya unsur kesengajaan, bukan sekadar musibah biasa.
Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran
Kasat Reskrim Polres Simeulue Ipda Muhammad Kautsar memastikan penyelidikan tengah berjalan. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, sementara olah tempat kejadian perkara (TKP) dilakukan untuk mengumpulkan bukti.
“Penyelidikan untuk mengungkap apakah kebakaran disengaja dilakukan orang lain atau tidak,” ujarnya.
Langkah ini diambil untuk meredam spekulasi liar yang mulai berkembang di tengah masyarakat. Polisi juga berupaya memastikan apakah ada unsur kriminal yang terorganisir di balik insiden tersebut.
Korban Sebut Ada Teror Sebelumnya
Fakta yang membuat kasus ini semakin serius adalah adanya dugaan teror sebelum kebakaran terjadi. Ralimansia mengaku rumahnya sempat dilempari benda yang diduga bom molotov.
Tak hanya itu, ancaman terhadap dirinya dan keluarga juga disebut sudah terjadi sebelumnya.
“Saya menduga rumah kami dibakar orang. Saya tidak mengerti apa kesalahan saya,” ungkapnya.
Rangkaian kejadian ini memperkuat dugaan bahwa kebakaran bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari tekanan yang dialami korban.
Isu Perdukunan Picu Kecurigaan
Di tengah penyelidikan, muncul isu sensitif yang berkembang di masyarakat. Kepala Desa Tanjung Raya, Hasmin, menyebut adanya dugaan keterkaitan dengan isu praktik perdukunan.
Namun, ia menegaskan bahwa informasi tersebut baru muncul setelah kebakaran terjadi dan belum pernah terdengar sebelumnya.
Isu ini berpotensi memicu konflik sosial jika tidak ditangani secara hati-hati. Karena itu, aparat diminta bekerja cepat dan transparan agar tidak memicu keresahan lebih luas.
Baca Juga:
Bentrokan Warga di Maluku Tenggara Tewaskan 1 Orang, Tiga Polisi Terluka
Kasus ini kini menjadi perhatian karena menyangkut rasa aman masyarakat. Dugaan pembakaran, teror berulang, hingga isu mistis menjadi kombinasi sensitif yang bisa memicu ketegangan sosial.
Masyarakat berharap aparat kepolisian segera mengungkap pelaku dan motif di balik kejadian ini. Penegakan hukum yang tegas dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Di sisi lain, perlindungan terhadap korban dan keluarganya juga menjadi prioritas, mengingat trauma yang ditinggalkan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis.
(Dist)











