BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Musim MotoGP 2025 menjadi periode paling berat dalam karier Francesco Bagnaia. Bukan hanya soal motor atau strategi balap, tetapi krisis mental yang muncul setelah ia gagal mengantisipasi kehadiran Marc Marquez sebagai rekan setim menjadi faktor utama kemundurannya.
Setelah dua kali menjuarai dunia dan nyaris mengunci gelar ketiga pada 2024, Bagnaia datang ke musim 2025 dengan status favorit. Namun realitas di garasi Ducati justru menghantam kepercayaan dirinya. Bagnaia terlihat kehilangan ketenangan, konsistensi, dan aura dominan yang selama ini menjadi kekuatannya.
Paolo Simoncelli, figur senior di paddock MotoGP sekaligus ayah mendiang Marco Simoncelli, menilai akar masalah Bagnaia bukanlah teknis, melainkan kesiapan mental menghadapi tekanan dari sosok sekelas Marc Marquez.
Menurut Simoncelli, Bagnaia memasuki musim 2025 dengan pola pikir yang keliru. Ia mengira persaingan bisa dikendalikan hanya dengan meminimalkan kesalahan, seperti yang ia lakukan pada musim sebelumnya. Namun kehadiran Marquez mengubah segalanya.
“Ia tidak siap menghadapi rekan setim yang begitu kuat. Pecco datang dengan keyakinan yang salah, seolah Marc bukan ancaman nyata.”kata Simoncelli dalam wawancara dengan Corriere della Sera, dikutip Rabu (7/1/2026).
Simoncelli juga menyinggung pengaruh lingkungan terdekat Bagnaia yang membuatnya meremehkan Marquez. Pola pikir tersebut, menurutnya, menjadi pemicu tekanan batin ketika realitas di lintasan tak sesuai ekspektasi.
Saat Marquez tampil agresif dan konsisten, Bagnaia justru mulai ragu pada dirinya sendiri. Kesalahan kecil yang sebelumnya jarang terjadi mulai muncul, diikuti hasil balapan yang inkonsisten. Kepercayaan diri yang selama ini menjadi fondasi kesuksesannya perlahan runtuh.
Baca Juga:
Kode Keras Marc Marquez Balik ke Honda di MotoGP 2027
Statistik MotoGP 2025 mencerminkan krisis tersebut. Bagnaia hanya mampu meraih dua kemenangan sepanjang musim dan finis di posisi kelima klasemen akhir. Sebaliknya, Marquez tampil tanpa kompromi dengan 11 kemenangan Grand Prix dan 14 kemenangan sprint, sekaligus mengunci gelar juara dunia ketujuhnya.
Situasi ini diperparah oleh dinamika internal Ducati. Perekrutan Marquez ke tim pabrikan disebut memicu ketegangan terselubung dengan lingkaran VR46 yang selama ini identik dengan Bagnaia. Rivalitas lama antara Valentino Rossi dan Marquez ikut menciptakan atmosfer tekanan yang sulit dihindari.
Di tengah badai tersebut, Simoncelli justru melihat Marquez sebagai gambaran pembalap yang sempurna secara mental. Menurutnya, mentalitas tak kenal menyerah Marquez adalah kualitas yang membuat perbedaan besar di level tertinggi MotoGP.
“Marc adalah pembalap yang buas secara mental,” ujar Simoncelli. “Dia tidak pernah berhenti percaya pada dirinya sendiri. Itulah yang membuat pembalap lain goyah.”
Musim 2025 pun menjadi pengingat pahit bagi Francesco Bagnaia bahwa di MotoGP modern, kecepatan saja tidak cukup. Tanpa kesiapan mental menghadapi tekanan dan rival sekelas Marc Marquez, bahkan juara dunia pun bisa terjerumus ke dalam krisis terdalam dalam kariernya.
(Budis)











