BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Legenda Persib Bandung, Atep harus berkata jujur bahwa kegagalan Indonesia ke Piala Dunia harus menjadi bahan evaluasi. Tak hanya untuk PSSI maupun Timnas Indonesia, namun juga untuk warganet.
Hujatan warganet kepada Timnas Indonesia bisa menjadi penyebab utama kegagalan tersebut. Sebab ia melihat, hujatan pedas dari warganet bisa berdampak terhadap mental dan kepercayaan diri pemain.
Seperti saat kalah atas Arab Saudi, ada 3 pemain yang dihujat habis-habisan, yakni Beckham Putra, Marc Klok, dan Yakob Sayuri. Termasuk saat kalah atas Irak, giliran Rizki Ridho yang menjadi sasaran warganet.
Atep memandang, hujatan itu akan berdampak masif, bukan hanya kepada beberapa pemain saja. Sehingga hal ini akan mempengaruhi rasa percaya diri mereka saat diturunkan di sebuah pertandingan.
Baca Juga:
Tanggapi Sanksi AFC, Persib Bandung Buka Suara
Begini Cara Umuh Muchtar Membangun Nostalgia Bersama Legenda Persib
“Ya harusnya tidak seperti itu ya. Karena saya yakin semua pemain juga ingin memberikan totalitas untuk timnya ketika dikasih kepercayaan,” jelas eks pemain Persija Jakarta itu.
Atep menambahkan, semua pemain yang ada di skuat Indonesia sudah menunjukan kemampuannya secara maksimal. Justru saat kalah, masyarakat Indonesia harus langsung memberi motivasi positif.
“Janganlah sampai menghujat karena ini akan mengganggu secara psikologis. Dan hujatan itu tidak ditujukan kepada satu dua orang ya. Karena memang sebenarnya kan secara keseluruhan ini adalah tim,” jelas mantan pemain PSKC Cimahi itu.
Pria asal Cianjur itu pun menuturkan, masih banyak cara positif dalam meluapkan kekesalan kepada Timnas Indonesia. Ia berharap kegagalan ini bisa direnungkan semua pihak, terutama dalam menjaga sikap.
“Jadi menurut saya kalaupun netizen meluapkan kekesalannya jangan sampai meluapkannya itu dengan hujatan lah. Kalaupun memang mau memberikan sebuah masukan, evaluasi itu yang positif harusnya. Karena ini kita untuk tim nasional. Kalau ada satu dua orang pemain yang kena hujat itu akan mempengaruhi secara mental itu.” tutupnya. (RF/_Usk)











