BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Di paddock MotoGP 2025, suara mesin RS-GP kini bukan lagi sekadar gema eksperimental dari tim yang dulu dipandang underdog. Raungan motor Aprilia kini menjadi simbol perubahan, sebuah kebangkitan yang lahir dari tangan dingin dan pikiran tajam seorang insinyur: Fabiano Sterlacchini.
Kebangkitan Aprilia bukan muncul dalam semalam. Di balik kemenangan di Silverstone, dominasi di Phillip Island, dan konsistensi di hampir setiap seri, ada fondasi baru yang dibangun secara tenang namun revolusioner. Sterlacchini yang resmi bergabung sebagai technical director pada akhir 2024 menjadi arsitek utama di balik transformasi tersebut.
Ia bukan nama asing di dunia MotoGP. Sebelum ke Noale, Sterlacchini menjadi bagian penting dalam proyek KTM dan sempat bekerja bersama Gigi Dall’Igna, tokoh besar yang melahirkan era keemasan Ducati. Namun berbeda dengan gaya flamboyan Dall’Igna, Sterlacchini membawa nuansa yang lebih tenang dan sistematis. Ia percaya, kesempurnaan motor bukan hanya soal angka di data, tapi juga chemistry antara pebalap dan tim.
“Dia punya kemampuan melihat masalah dari sisi yang tidak kami pikirkan. Bicara dengannya seperti membaca peta baru tentang bagaimana motor seharusnya bekerja,” ujar Marco Bezzecchi, pebalap utama Aprilia musim ini, melansir MotoGP, Selasa (4/11/2025).
Sterlacchini datang dengan misi sederhana namun ambisius: membuat RS-GP bukan hanya cepat di satu sirkuit, tapi tangguh di semua lintasan dan kondisi. Di bawah arahannya, Aprilia mengatasi penyakit lamanya, overheating di trek Asia dan kesulitan menjaga grip di tikungan lambat. Kini, RS-GP tampil lebih stabil, mudah dikendalikan, dan mampu menandingi performa Ducati di trek cepat.
Baca Juga:
Aprilia Jadi Tim Pabrikan Paling Menonjol di MotoGP 2025
Hasil itu bukan hanya soal perangkat keras. Sterlacchini juga membangun ulang ekosistem kerja di dalam garasi: hubungan teknisi dan pebalap dibentuk tanpa hierarki kaku. Ide apa pun boleh masuk, asalkan bisa diuji di lintasan. Raul Fernandez, yang meraih kemenangan perdananya di MotoGP bersama Trackhouse-Aprilia di Australia, menjadi bukti nyata filosofi itu.
“Dia membantu saya percaya bahwa motor ini bisa membawa saya menang. Cara dia bicara membuat semua terasa mungkin,” ujar Fernandez.
Pendekatan yang menggabungkan disiplin teknik ala Ducati, adaptasi cepat ala KTM, dan empati khas Italia itu menjadi senjata rahasia Aprilia tahun ini. Sterlacchini mengubah tim Noale dari laboratorium penuh eksperimen menjadi organisme teknis yang efisien dan sadar arah.
Kini, Aprilia bukan lagi sekadar tim kejutan. Mereka adalah ancaman nyata, tim dengan struktur, pemahaman, dan kepercayaan diri baru.
Sterlacchini, sang otak di balik kebangkitan ini, telah menyalakan api yang lama padam di Noale.
Dan jika tren ini berlanjut ke musim 2026, dunia MotoGP mungkin akan menyaksikan sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya: Aprilia berdiri di puncak, bukan hanya sebagai pesaing, tetapi sebagai penentu era baru balap motor.
(Budis)









