BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Kemenangan Marco Bezzecchi di MotoGP Portugal 2025 bukan sekadar hasil luar biasa di lintasan. Itu adalah pernyataan keras dari Aprilia bahwa dominasi Ducati di era modern MotoGP kini benar-benar terancam.
Dalam balapan utama di Sirkuit Algarve, Portimao, Bezzecchi tampil tanpa cela. Ia bukan hanya memimpin dari start hingga finis, tapi juga memperlihatkan performa teknis yang membuat Ducati, KTM, hingga Yamaha tampak kehilangan arah. Dari performa yang biasa saja di sprint race, Bezzecchi dan Aprilia menjelma menjadi paket sempurna di hari Minggu.
Rahasia di balik performa impresif itu terletak pada kemampuan Aprilia membaca situasi. Setelah sprint yang kurang menggigit, tim Noale menganalisis data dengan cermat. Mereka mengubah karakter depan RS-GP agar lebih stabil di fase entri tikungan cepat, titik di mana Ducati biasanya unggul. Hasilnya langsung terasa, Bezzecchi mampu menjaga kecepatan di tiap sektor, sementara lawan-lawannya bergulat dengan degradasi ban dan understeer.
Kemenangan ini menandai titik balik penting. Selama tiga musim terakhir, Ducati hampir tak tersentuh, delapan motor di grid, teknologi aerodinamika unggul, dan sistem holeshot yang jadi acuan. Namun di Portimao, keunggulan itu seolah memudar. Alex Marquez, satu-satunya penantang terdekat Bezzecchi, mengaku tak bisa menandingi kelincahan motor Aprilia di fase tengah tikungan.
“RS-GP mereka seperti meluncur di rel. Kami kuat di akselerasi, tapi mereka lebih cepat di mana pun arah motor berubah,” ujar Marquez, melansir Motogp, Selasa (11/11/2025).
Dominasi Ducati yang tampak tak tergoyahkan mulai mendapat tekanan nyata. Aprilia kini bukan lagi tim kejutan; mereka konsisten podium di sembilan dari lima belas seri terakhir. Kombinasi stabilitas pengereman, efisiensi aerodinamika, dan pengelolaan ban membuat RS-GP 2025 menjadi motor paling seimbang di grid.
Baca Juga:
Aprilia Fokus Jinakkan RS-GP untuk MotoGP 2025
Kemenangan Bezzecchi Jadi Pesan Keras Aprilia untuk Jorge Martin
Lebih menarik lagi, Aprilia kini menutup musim dengan posisi ketiga di klasemen konstruktor, pencapaian terbaik mereka di era MotoGP modern. Dengan proyek pengembangan yang kini berpusat pada peningkatan torsi menengah dan akselerasi, Aprilia siap naik level pada 2026.
Sementara itu, Ducati tampak mulai kehilangan pijakan. Francesco Bagnaia gagal finis di Portugal, dan posisi klasemennya kini terancam direbut Pedro Acosta dari KTM. Performa Ducati yang dulu solid kini mulai rapuh di bawah tekanan Aprilia yang terus meningkat.
Jika tren ini berlanjut, musim 2026 bisa menjadi musim paling menegangkan dalam satu dekade terakhir, pertarungan antara raksasa lama dan penantang baru yang kini siap merebut tahta.
“Kami tidak lagi melihat Ducati sebagai target yang mustahil. Kami sudah di level mereka mungkin sebentar lagi, kami akan berada di atas,” ucap Bezzecchi.
(Budis)











