JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Laporan terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA memperlihatkan ketidakpuasaan pada salah satu program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yakni program 19 juta lapangan pekerjaan dan makan bergizi gratis (MBG) menjadi dua dari lima program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran yang paling banyak menuai ketidakpuasan.
Direktur LSI Denny JA, Adjie Alfaraby menutturkan, hasil survei dari kinerja selma satu tahun kepemimpinan tersebut, mencatat tingkat ketidakpuasan terhadap program 19 juta lapangan pekerjaan mencapai 71,6 persen. Lalu, program MBG gratis memperoleh 38,2 persen, angka yang lebih tinggi dibanding tiga program prioritas lainnya.
“Di urutan ketiga ada Koperasi Merah Putih dengan 23,1 persen; Sekolah Rakyat 10,7 persen, dan Cek Kesehatan Gratis 9,1 persen,” ujar Adjie dalam konferensi pers pada Kamis, 23 Oktober 2025.
Adjie menjelaskan, bahwa masyarakat kini menunjukkan perubahan sikap psikologis dengan memberikan lebih banyak catatan dan evaluasi terhadap kinerja pemerintahan. Ia menjelaskan, meskipun rata-rata tingkat kepuasan terhadap lima program prioritas masih di atas 70 persen, namun masyarakat mulai menyoroti pelaksanaan program-program tersebut.
Menurutnya, tingginya ketidakpuasan terhadap dua program utama justru menandakan bahwa publik sebenarnya menyukai konsep dan tujuannya, tetapi menilai pelaksanaannya belum optimal.
BACA JUGA:
Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Dipuji PDIP, Tapi Masih Ada Catatan
Pemerintah Umumkan Penurunan Harga Pupuk Urea, Prabowo Siapkan Layanan Pengaduan
“Yang jadi masalah, eksekusi atau implementasi programnya dinilai buruk,” kata Adjie.
Sebelumnya, LSI Denny JA juga merilis hasil survei mengenai tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Dalam hasil survei itu, tingkat kepuasan masyarakat tercatat menurun dari waktu ke waktu.
Adjie menjelaskan bahwa penurunan tersebut disebabkan karena sebagian besar program prioritas belum memberikan dampak langsung yang dirasakan masyarakat.
“Kemudian, terjadi pergeseran psikologis publik dari sebelumnya antusias ke fase menagih janji,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketika publik sudah berada di fase menagih janji, masyarakat tidak lagi terpesona oleh pidato maupun retorika politik. Publik kini hanya ingin melihat bukti nyata dari kebijakan dan program yang telah dijanjikan pemerintah.
LSI Denny JA mencatat bahwa tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran pada Oktober 2025 berada di angka 74,8 persen. Angka ini menurun dari survei sebelumnya, yaitu 80 persen pada Januari dan 81,2 persen pada Juni 2025.
Survei ini dilakukan dengan metode multistage random sampling terhadap 1.200 responden di seluruh Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner yang dilengkapi riset kualitatif. Adapun margin of error survei yang berlangsung pada 10–19 Oktober 2025 sekitar ±2,9 persen.
(Saepul)











