BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID — Insiden dugaan keracunan makanan kembali terjadi di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sebanyak 29 siswa SDN Ciptaharja harus mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Rajamandala usai menyantap jajanan yang dijual di lingkungan sekolah, Jumat (17/10/2025).
Salah satu korban, Nita Alia Nia (10), siswi kelas V, mengaku sempat membeli dan mengonsumsi jajanan yang dikenal dengan sebutan dogfood, dogput, atau endog nyumput sebelum kegiatan belajar dimulai.
Tak lama setelah berada di dalam kelas, Nita mulai merasakan mual dan pusing, keluhan yang ternyata juga dialami oleh sejumlah teman sekelasnya.
Karena kondisinya memburuk, Nita dilarikan ke Puskesmas menggunakan ambulans dan sempat mendapatkan penanganan infus di fasilitas kesehatan tersebut.
“Tos enakan ayeuna mah (Sudah membaik sekarang mah),” ujar Nia (47), ibunda Nita, mengutip pikiran rakyat, Jumat (17/10/2025).
Tidak hanya Nita, Anjelia (11), siswi kelas VI SDN Ciptaharja, juga menjadi salah satu korban dalam insiden dugaan keracunan makanan yang terjadi pada Jumat pagi.
Menurut keterangan sang nenek, Saodah (61), cucunya sempat membeli jajanan sebelum masuk kelas dan berangkat tanpa sarapan.
Tak lama setelah mengonsumsi makanan tersebut, Anjelia mengalami mual, pusing, hingga muntah, yang membuatnya harus dibawa ke Puskesmas Rajamandala untuk mendapatkan perawatan.
Guru SDN Ciptaharja, Heryana (41), menyebutkan bahwa total siswa yang dirujuk ke fasilitas kesehatan mencapai 29 orang. Dari jumlah tersebut, 14 siswa harus menjalani perawatan intensif dan pemasangan infus, sementara 15 lainnya hanya menjalani observasi medis.
Heryana menjelaskan, para siswa diduga mengonsumsi jajanan bernama dogput, yang merupakan campuran mi, telur, dan kulit lumpia, dan dijual seharga Rp2.000 per porsi oleh seorang pedagang keliling menggunakan gerobak bermotor.
Kronologi kejadian bermula saat Heryana menerima laporan adanya siswa kelas V yang mengalami muntah dan pusing. Laporan serupa kemudian datang dari siswa lainnya di kelas yang sama, dengan keluhan serupa. Sebagian besar dari mereka ternyata diketahui telah menyantap jajanan yang sama sebelum jam pelajaran dimulai.
Tak hanya di kelas V, gejala serupa juga dialami oleh sejumlah siswa dari kelas VI dan III. Pihak sekolah kemudian memutuskan untuk membawa seluruh siswa yang mengonsumsi makanan tersebut ke Puskesmas, baik yang menunjukkan gejala maupun tidak.
Baca Juga:
Dapur MBG di Sukabumi Jadi Sorotan, Siswa Bisa ‘Request’ Menu Favorit
Begini Kondisi Federico Barba Setelah Mengalami Keracunan Makanan
Mereka yang mengalami gejala langsung mendapat penanganan medis, sedangkan siswa tanpa keluhan hanya menjalani pemeriksaan dan pemantauan.
Heryana menegaskan insiden ini tidak berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan di sekolah.
(Virdiya/Budis)











