BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Desa Wisata Wukirsari kembali menjadi sorotan setelah meraih sejumlah penghargaan bergengsi. Pada 2024, desa ini dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik Dunia (The Best Tourism Village) oleh UNWTO. Setahun berselang, Kalurahan Wukirsari ditetapkan sebagai Kawasan Berbasis Kekayaan Intelektual 2025 oleh Kementerian Hukum.
Namun bagi pengelola dan masyarakat, prestasi ini hanyalah “bonus” dari perjalanan panjang menuju tujuan yang lebih besar: kesejahteraan warga.
Nur Ahmadi, salah satu tokoh penggerak desa, menegaskan bahwa penghargaan hanyalah bentuk pengakuan formal. Yang terpenting, kata dia, adalah dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
“Juara yang sesungguhnya adalah ketika warga sudah merasakan manfaat ekonominya. Itu tujuan utama kami,” ujar Nur, dikutip dari laman Pemkab Bantul, Selasa (2/12/2025)
Kolaborasi Besar yang Menggerakkan Desa Wisata
Di balik naiknya Wukirsari sebagai desa wisata unggulan, terdapat kerja sama besar dari berbagai sektor, yakni pemerintah, perusahaan swasta, perguruan tinggi, hingga BUMN.
Dukungan Pemerintah:
- Pembangunan showroom batik oleh Disperindag DIY (2016).
- Pembangunan Taman Parkir oleh Dinas Pariwisata DIY (2018).
Dukungan Swasta:
PT Astra International Tbk turut berperan melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA), memberikan pelatihan konten digital dan pendanaan penyempurnaan fasilitas wisata.
“Astra mendampingi kami sejak 2023, ada pelatihan foto, TikTok, sampai pengembangan limasan untuk wisata membatik,” ujar Nur.
Dengan dukungan berbagai pihak, Wukirsari tidak hanya mempertahankan warisan budaya Giriloyo tetapi berhasil menjadikannya motor penggerak ekonomi desa.
Baca Juga:
Pemuteran Bali Masuk Daftar 52 Desa Wisata Terbaik Dunia 2025 Versi PBB
Batik Mengubah Hidup
Transformasi ekonomi Wukirsari tergambar jelas dari kisah para perajin batik, salah satunya Istijanah, pembatik senior yang telah berkarya sejak 1980-an.
Dulu, Istijanah hanya seorang buruh batik dengan upah Rp50 per lembar. Pembayaran baru diterima sebulan kemudian, sehingga kondisi ekonominya selalu terbatas.
Namun setelah Wukirsari berkembang menjadi desa wisata, hidupnya berubah total. Ia tak hanya membatik, tetapi juga menjual karya sendiri melalui showroom Koperasi Jasa Kampung Batik Giriloyo.
“Sekarang uang bisa diterima langsung. Kalau tidak laku hari ini, besok sudah ada pembeli,” ungkapnya.
Selain dari penjualan batik, Ia kini mendapat tambahan penghasilan dari aktivitas wisata seperti pendampingan membatik untuk pengunjung. Pendapatan yang meningkat memungkinkan Istijanah menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.
“Dua anak saya sudah selesai sarjana, satu masih SMA,” ucapnya bangga.
Lebih dari Sekadar Desa Wisata, Wukirsari Adalah Model Kebangkitan Ekonomi Budaya
Wukirsari kini menjadi contoh bagaimana pelestarian budaya bisa berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pengakuan internasional memang membanggakan, tetapi perubahan ekonomi warga menjadi bukti paling nyata kesuksesan desa ini.
Warisan budaya, kreativitas masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor berhasil melahirkan sebuah ekosistem wisata yang bukan hanya indah untuk dilihat, tetapi benar-benar menghidupi masyarakatnya.
(Budis)











