BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Max Verstappen memilih berdiri di sisi Red Bull saat tim tersebut tengah berada dalam fase paling bergejolak dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah isu penurunan performa dan perombakan besar di manajemen, juara dunia Formula 1 itu menegaskan komitmennya untuk tetap bertahan hingga kontraknya berakhir pada 2028.
Keputusan Verstappen ini sekaligus meredam spekulasi panjang yang mengaitkannya dengan sejumlah tim rival, termasuk Mercedes dan Aston Martin. Rumor tersebut menguat ketika performa Red Bull sempat merosot pada pertengahan musim lalu, memunculkan dugaan bahwa klausul performa dalam kontraknya bisa membuka pintu kepindahan.
Namun Verstappen menegaskan, loyalitas terhadap kesepakatan yang telah dibuat menjadi prioritas utamanya. Dalam wawancara dengan media Swiss, Blick, pembalap berusia 28 tahun itu menyatakan tak memiliki rencana mencari pelabuhan baru dalam waktu dekat.
“Saya masih memiliki kontrak dengan Red Bull sampai 2028 dan ingin menuntaskannya. Untuk saat ini, saya menutup kemungkinan berpindah tim,” ujar Verstappen, dikutip dari Formula1, Jumat (16/1/2026).
Musim lalu menjadi periode sulit bagi Red Bull, bukan hanya karena performa mobil yang sempat menurun, tetapi juga akibat perubahan besar di internal tim. Red Bull kehilangan dua figur sentral, yakni Christian Horner dan Adrian Newey, yang selama bertahun-tahun menjadi fondasi dominasi mereka di Formula 1.
Situasi tersebut diperparah dengan mundurnya Helmut Marko pada akhir musim 2025. Verstappen tak menampik bahwa kepergian mentor yang membesarkan kariernya itu meninggalkan ruang kosong secara personal.
“Sangat disayangkan saya tidak lagi ditemani sahabat dan mentor saya, Helmut Marko, pada 2026. Saya pasti akan merindukannya,” ungkap Verstappen.
Baca Juga:
Jalan Terakhir Max Verstappen Mengejar Gelar Dunia Kelima di Enam Seri Penentu Formula 1 2025
Meski demikian, Red Bull perlahan bangkit pada paruh kedua musim. Verstappen kembali tampil kompetitif dan membawa timnya kembali ke jalur perebutan gelar juara dunia. Ia bahkan nyaris membalikkan keadaan sebelum akhirnya harus mengakui keunggulan Lando Norris, yang mengunci gelar juara dunia pertamanya bersama McLaren dengan selisih tipis dua poin.
Bagi Verstappen, kebangkitan tersebut menjadi bukti bahwa Red Bull masih memiliki daya juang tinggi, meski berada dalam situasi yang jauh dari ideal.
“Di tengah kekacauan akibat pergantian pimpinan tim, hampir tidak ada yang percaya kami bisa kembali bersaing. Padahal sebelum fase akhir musim, kami tertinggal lebih dari 100 poin,” ujarnya.
Sikap Verstappen ini menegaskan pilihannya untuk mengedepankan stabilitas dan loyalitas, sekaligus memberi sinyal bahwa masa depannya bersama Red Bull masih akan menjadi bagian penting dalam perjalanan Formula 1 beberapa musim ke depan.








