JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Di tengah derasnya hujatan terhadap alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas dan suaminya Arya Iwantoro, penulis kondang Tere Liye justru mengambil posisi berbeda.
Penulis novel best seller Hafalan Sholat Delisa itu memberikan pembelaan terbuka terhadap Dwi yang videonya viral karena pernyataan “cukup saya saja yang WNI”.
Kritik Keras untuk Netizen
Melalui akun media sosialnya, pria bernama asli Darwis itu menilai reaksi publik terhadap kasus tersebut sudah berlebihan.
“Apa sih dosanya? Sy mulai kesal melihat kasus ini. Lebay. Coba dijawab pertanyaan sederhana ini: ‘Apa sih dosa dari orang ini saat anaknya jadi WNA? Dia nyuri? Dia korup? Dia zolim?’” tulis Tere Liye di Facebook, dikutip Rabu (25/2/2026).
Pernyataan itu langsung memantik diskursus baru di ruang publik digital.
Bantah Tiga Tuduhan Utama
Dalam ulasannya, Tere Liye secara sistematis membantah tiga tudingan yang ramai diarahkan kepada Dwi Sasetyaningtyas.
Ia mengakui bahwa Dwi memang penerima beasiswa LPDP yang dananya berasal dari APBN. Namun menurutnya, banyak warga Indonesia lain juga menerima berbagai bantuan negara.
“Iya, itu betul… Ratusan juta rakyat netek ke anggaran negara,” tulisnya, seraya mempertanyakan kontribusi publik secara lebih luas.
Soal Tuduhan Menjelekkan Indonesia
Tere Liye juga menilai tudingan bahwa Dwi telah merugikan citra Indonesia tidak tepat sasaran.
Menurutnya, pihak yang benar-benar merusak bangsa adalah pelaku korupsi dan praktik kotor lainnya, bukan individu yang menyampaikan opini pribadi di media sosial.
“Hanya karena dia bilang, cukuplah sy sj yg WNI, itu sih pendapat dia,” tegasnya.
Sindir Balik Pengkritik
Tak berhenti di situ, Tere Liye bahkan menyentil para pengkritik yang menuduh Dwi haus validasi.
Ia menilai banyak pengguna media sosial sebenarnya melakukan hal serupa.
“Kamu jugaaa haus validasi. Coba cek deh akun medsos masing2,” tulisnya.
Ia juga menyindir dengan membandingkan dirinya yang mengaku jarang menampilkan wajah di media sosial selama dua dekade terakhir.
Baca Juga:
44 Awardee Kena Sanksi! LPDP Mulai Tagih Pengembalian Dana Beasiswa
Soroti Kemarahan yang Dinilai Pilih-Pilih
Lebih jauh, Tere Liye menyoroti fenomena kemarahan publik yang menurutnya tidak proporsional.
Ia mempertanyakan mengapa isu video LPDP bisa meledak besar, sementara isu-isu strategis seperti program pemerintah, pelemahan lembaga antikorupsi, hingga kerusakan lingkungan justru kurang mendapat perhatian.
Ajakan refleksi itu menjadi penutup pernyataannya.
“Apa sih dosa dari orang ini? Apakah dia nyuri? Korup? Zolim? Jika tidak? Duh, abaikan sj video haus validasinya,” pungkasnya.











