JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Petarung asal Dagestan, Islam Makhachev, kembali jadi pusat perhatian dunia MMA setelah resmi naik ke kelas welter untuk menantang Jack Della Maddalena di UFC 322 yang bakal digelar di Madison Square Garden bulan depan.
Langkah ini bukan sekadar uji nyali tapi bagian dari misi besar Makhachev untuk menulis ulang sejarah UFC.
Dari Penerus Khabib Jadi Pemburu Legenda
Sejak menjuarai kelas ringan dan dengan dominan mempertahankannya, Makhachev kerap disebut sebagai penerus sempurna Khabib Nurmagomedov. Namun di balik semua pujian itu, IA meninyimpan keinginan kuat untuk membentuk warisannya sendiri.
“Saya ingin menunjukkan bahwa saya bukan hanya bayangan Khabib. Saya ingin dua sabuk juara,” ungkap Makhachev dalam wawancara usai UFC 319.
Keputusan meninggalkan sabuk kelas ringan adalah langkah besar. Tidak banyak juara berani mengambil risiko sebesar itu apalagi ketika posisi mereka sedang aman di puncak.
Tantangan Berat Kelas Welter
Di atas kertas, tantangan Makhachev di kelas welter tidak main-main. Jack Della Maddalena dikenal punya daya tahan tinggi dan pukulan yang mematikan. Petarung asal Australia ini juga tengah berada di puncak performanya setelah menumbangkan beberapa nama besar di divisinya.
Kelebihan Makhachev terletak pada kekuatan grappling dan kontrol posisi, yang selama ini menjadi senjata khas petarung Dagestan. Namun, di kelas yang lebih berat, faktor fisik dan kekuatan pukulan lawan bisa jadi perbedaan besar.
Analis MMA, Dan Hooker, yang pernah dikalahkan Makhachev, menilai langkah ini sebagai bukti mental juara sejati.
“Tidak banyak yang berani naik kelas setelah mendominasi. Bahkan Khabib pun tidak melakukannya. Makhachev punya keberanian luar biasa,” ujar Hooker di Sky Sports New Zealand, dikutip Jumat (17/10/2025)
Jika berhasil menumbangkan Jack Della Maddalena, Makhachev akan menyamai rekor petarung legendaris seperti Conor McGregor, Daniel Cormier, dan Amanda Nunes — atlet yang pernah menguasai dua divisi sekaligus.
Lebih dari itu, ia akan menjadi petarung Dagestan pertama yang menjuarai dua kelas, melampaui capaian mentornya sendiri, Khabib Nurmagomedov.
Bagi Makhachev, ini bukan sekadar soal gelar atau uang. Ini tentang mewariskan nama besar Dagestan dan membuktikan bahwa era dominasi petarung dari Rusia belum berakhir.
Salah satu keunggulan terbesar Makhachev adalah disiplin dan ketenangan luar biasa di tengah tekanan besar. Sejak debutnya di UFC, ia jarang terlibat drama, lebih memilih menunjukkan kualitas lewat aksi di oktagon.
Pendekatannya yang fokus dan rendah hati menjadi kontras dengan gaya flamboyan petarung top lain. Ia tidak banyak bicara, tapi hasil pertarungan berbicara sendiri. Statistik mencatat Makhachev memenangkan mayoritas duel dengan dominasi penuh, jarang sekali tertekan bahkan oleh elite sekelas Charles Oliveira atau Alexander Volkanovski.
Baca Juga:
Khabib Beri Pesan Menyentuh untuk Islam Makhachev Jelang Duel vs Jack Della Maddalena di UFC 322
Sean Strickland Si Magnet Kontroversi UFC, Bawa Pistol ke Gym Datangi Khamzat Chimaev
Bisakah Makhachev Melampaui Khabib?
Pertanyaan besar yang kini muncul di kalangan penggemar dan pengamat: Bisakah Makhachev melampaui Khabib?
Secara teknik, banyak yang menilai Makhachev bahkan lebih lengkap. Ia punya grappling kuat, striking tajam, dan stamina luar biasa. Namun, untuk benar-benar keluar dari bayang-bayang sang legenda, gelar di kelas welter bisa menjadi pembeda besar.
Jika menang di UFC 322, Islam Makhachev bukan hanya menjadi juara dua divisi — tetapi juga akan mengukuhkan dirinya sebagai petarung paling dominan di era modern UFC.
UFC 322 di Madison Square Garden dipastikan menjadi salah satu laga paling ditunggu tahun ini. Selain duel perebutan sabuk welterweight, duel ini juga menyimpan cerita emosional tentang seorang juara yang berani naik kelas demi mengejar sejarah, melawan petarung muda yang siap mempertahankan tahtanya.
(Dist)
(Dist)











