BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Menjelang bulan suci Ramadan 2026, masyarakat kembali dihadapkan pada tantangan ekonomi yang cukup berat. Harga ayam potong di beberapa tempat meroket hingga menyentuh angka Rp45.000 per ekor, naik signifikan dari harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp32.000 hingga Rp35.000.
Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi musiman biasa. Lonjakan harga yang mencapai lebih dari 30 persen ini mulai berdampak pada daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor kuliner.
Pakan Mahal dan Stok Menipis
Berdasarkan pantauan di lapangan, penyebab utama meroketnya harga ayam tahun ini adalah kombinasi antara tingginya biaya produksi di tingkat hulu dan kendala distribusi. Harga pakan ternak berbasis jagung dilaporkan naik tajam akibat dinamika pasar global, yang memaksa peternak menaikkan harga jual agar tidak merugi.
Selain itu, cuaca ekstrem di beberapa wilayah sentra peternakan dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan angka kematian ayam cukup tinggi, sehingga stok ayam siap potong menjadi terbatas di saat permintaan masyarakat menjelang Ramadan justru sedang melonjak drastis.
Baca Juga:
Jelang Ramadhan, Harga Bahan Pokok di Pasar Tagog Padalarang Merangkak Naik
Tekan Harga Pangan Ramadan dan Lebaran, Ini Lokasi dan Jadwal Bazar Murah di Kota Bandung
Strategi Bertahan di Tengah Badai Harga
Kenaikan harga ini dirasakan langsung oleh para pelaku usaha. Daffa Putra, karyawan kedai di salah satu cabangnya.
“Ayam Potong Fresh” yang kini telah mengelola 3 cabang di wilayah kota, mengungkapkan betapa sulitnya menjaga stabilitas bisnis di tengah harga modal yang tidak menentu.
“Sejak masuk Februari, harga dari suplier naik. Sekarang per ekor sudah kena Rp45.000. Padahal biasanya kami ambil banyak sekaligus,” ujar Daffa Putra saat diwawancarai.
Daffa Putra menambahkan bahwa mengelola salah satu cabang memberikan tantangan tersendiri dalam manajemen stok. Ia harus memutar otak agar kualitas ayam tetap terjaga namun harga jual ke pelanggan tidak naik terlalu ekstrem yang bisa menyebabkan konsumen lari.
“Kami tidak berani naikkan harga jual terlalu tinggi ke pelanggan. Jadi, saya mengecilkan keuntungan. Yang penting perputaran uang tetap jalan,” tambahnya.
Harapan pada Intervensi Pemerintah
Kenaikan harga ini diharapkan segera mendapat perhatian serius dari pemerintah. Operasi pasar dan subsidi pakan ternak dianggap menjadi solusi jangka pendek yang paling dinanti oleh para pedagang dan pengusaha kedai ayam.
Jika harga terus bertahan di angka Rp45.000 atau bahkan naik lagi saat mendekati Idul Fitri, dikhawatirkan inflasi pangan akan semakin tak terkendali. Masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam berbelanja dan mulai mencari alternatif protein lain guna menyeimbangkan permintaan pasar yang sedang tinggi.
(Magang UIN SGD Bandung/Muhamad Faishal Aidil Arif)











