BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Harga minyak dunia melonjak tajam dan menyentuh level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kontrak berjangka minyak jenis Brent Crude Oil untuk pengiriman Mei ditutup naik US$3,54 atau 3,26 persen ke level US$112,19 per barel pada Jumat (20/3). Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk kontrak April ditutup menguat US$2,18 atau 2,27 persen menjadi US$98,32 per barel.
Dipicu Konflik dan Gangguan Pasokan
Lonjakan harga minyak dipicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, terutama ketegangan antara Iran dengan Israel serta keterlibatan Amerika Serikat.
Situasi semakin memanas setelah Irak menetapkan kondisi kahar (force majeure) pada sejumlah ladang minyak yang dikelola perusahaan asing, sehingga memperbesar kekhawatiran gangguan pasokan global.
Selain itu, potensi terganggunya jalur distribusi energi di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia menjadi faktor utama kenaikan harga.
Baca Juga:
Harga Minyak Melonjak Setelah Serangan Israel ke Iran
Pasokan Terancam, Harga Sulit Turun
Para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi selama aliran distribusi melalui Selat Hormuz belum kembali normal.
Kepala strategi komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menilai pemulihan harga energi dalam waktu dekat sulit terjadi.
“Potensi pembalikan cepat harga energi tidak mungkin terjadi karena kerusakan telah terjadi pada produksi,” ujarnya.
Senada, analis UBS Giovanni Staunovo menyebut arah harga minyak masih cenderung naik selama pasokan tetap terbatas.
Dampak Global dan Respons AS
Presiden Donald Trump menyatakan situasi konflik membuat jalur diplomasi dengan Iran semakin sulit, sementara militer AS meningkatkan kehadiran di kawasan.
Di sisi lain, pemerintah AS membuka opsi pelepasan cadangan minyak strategis untuk menambah pasokan global dalam beberapa bulan ke depan.
Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, bahkan memperingatkan pemulihan pasokan energi dari kawasan Teluk bisa memakan waktu hingga enam bulan.
Tren Harga Masih Naik
Dalam sepekan terakhir, harga Brent telah melonjak sekitar 8,8 persen. Kesenjangan harga antara Brent dan WTI juga melebar ke level tertinggi dalam 11 tahun terakhir.
Dengan kondisi geopolitik yang belum stabil dan ancaman gangguan distribusi energi global, harga minyak diperkirakan masih akan bergerak di level tinggi dalam waktu dekat.











