JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Legenda tinju dunia, Mike Tyson, mengungkap alasan mengapa ia tak pernah tergoda untuk meniti karier di dunia Mixed Martial Arts (MMA), meskipun saat ini seni bela diri campuran itu menjadi olahraga dengan popularitas global yang luar biasa.
Tyson mengakui alasannya sangat sederhana yakni uang. Mantan juara dunia kelas berat termuda dalam sejarah tinju tersebut menegaskan bahwa pendapatan para petarung UFC tak sebanding dengan apa yang ia hasilkan di ring tinju.
“Lima Petarung UFC Tak Bisa Menandingi Bayaranku,” ujar Petinju yang berjuluk Leher Beton itu.
Dalam wawancara bersama artis hip-hop Fat Joe di acara Hard Rock Bet, Tyson dengan blak-blakan mengatakan, bahwa dirinya tak pernah serius mempertimbangkan karier di UFC karena faktor finansial yang jauh berbeda antara dunia tinju dan MMA.
“Lima petarung UFC terbesar sekalipun tidak bisa menandingi bayaranku,” ujar Tyson dengan nada tegas.
“Aku ingin menjadi petarung terbesar, mendapat bayaran terbesar, dan memiliki segalanya. Saat Mike Tyson bertarung, dunia berhenti sejenak,” lanjutnya.
Komentar itu menyoroti jurang besar dalam kompensasi finansial antara petinju kelas dunia dan petarung MMA, bahkan di level tertinggi sekalipun.
Meskipun sejumlah nama besar UFC seperti Conor McGregor sempat mencetak penghasilan fantastis, angka tersebut tetap jauh di bawah pundi-pundi yang diraup Tyson di masa jayanya.
Tinju Masih Jadi Olahraga Termahal
Mike Tyson aktif bertinju antara tahun 1987 hingga 2005, periode ketika UFC masih dalam tahap awal berkembang. Saat itu, divisi kelas berat UFC diisi oleh nama-nama seperti Mark Coleman, Randy Couture, Bas Rutten, Kevin Randleman, hingga Frank Mir. Namun, tak satu pun dari mereka memiliki daya tarik global seperti yang dimiliki Tyson.
Sebagai salah satu ikon paling terkenal dalam sejarah olahraga dunia, Tyson bukan hanya petinju—ia adalah fenomena budaya pop. Setiap pertarungannya mampu menarik jutaan penonton dan menghasilkan pendapatan pay-per-view (PPV) yang fantastis.
“Tinju sudah lama menjadi panggung bagi para bintang besar. Petarung MMA mungkin hebat, tapi mereka tidak memiliki pengaruh budaya sebesar petinju dunia,” ungkap Tyson dalam wawancara lanjutan.
Baca Juga:
Khamzat Chimaev Disebut Bisa Siksa Alex Pereira Usai Kemenangan di UFC 320
Khabib Beri Pesan Menyentuh untuk Islam Makhachev Jelang Duel vs Jack Della Maddalena di UFC 322
Gagal Duel Lintas Olahraga
Salah satu wacana menarik di masa lalu adalah rencana duel lintas olahraga antara Mike Tyson dan Bob Sapp, bintang MMA sekaligus pegulat profesional asal Amerika Serikat. Namun, pertarungan tersebut tak pernah terwujud karena berbagai alasan komersial dan kontraktual.
Meski begitu, Tyson tetap menjaga kedekatan dengan dunia MMA. Baru-baru ini, ia bahkan muncul sebagai karakter yang bisa dimainkan dalam gim video “EA Sports UFC”, membuktikan bahwa namanya masih relevan di dunia bela diri modern.
Tyson Masih Aktif di Dunia Hiburan
Setelah pensiun, Mike Tyson tidak benar-benar meninggalkan sorotan publik. Ia tetap aktif dalam berbagai proyek hiburan, termasuk pertunjukan panggung tunggal yang mengisahkan perjalanan hidupnya dari masa sulit hingga menjadi legenda tinju dunia.
Kini, pria berjuluk Iron Mike itu sedang bersiap untuk pertandingan ekshibisi melawan Floyd Mayweather Jr. tahun depan. Laga tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu event terbesar pasca-karier Tyson, sekaligus reuni dua ikon tinju yang pernah mendominasi dunia.
Tinju vs MMA: Duel yang Tak Pernah Seimbang
Komentar Tyson mencerminkan kenyataan yang lebih luas: tinju masih menjadi olahraga dengan imbalan finansial terbesar di antara semua cabang bela diri. Sementara MMA terus berkembang secara global, perbedaan pendapatan dan pengaruh budaya membuat tinju tetap berada di puncak hierarki olahraga tarung.
“Keputusanku tidak pernah soal takut atau tidak minat,” tutur Tyson.
“Aku hanya ingin berada di puncak. Tinju memberiku uang, ketenaran, dan warisan yang tak tergantikan.”
Meski kini jarang naik ring, Mike Tyson tetap menjadi simbol kehebatan dan daya tarik abadi olahraga tarung, ikon yang menunjukkan bahwa menjadi petarung bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga tentang menguasai dunia dengan karisma dan warisan yang tak lekang oleh waktu.
(Dist)










