BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Kemenangan di WTA Finals Riyadh 2025 menjadi puncak musim gemilang bagi Elena Rybakina, namun di balik senyum sang juara, tersimpan cerita lain yang jauh lebih personal, tentang perjuangan panjang melawan masalah kesehatan yang tak kunjung jelas penyebabnya.
Dalam wawancara setelah menaklukkan Aryna Sabalenka di final dua set langsung, petenis asal Kazakhstan itu mengungkap bahwa dirinya akan menghabiskan beberapa hari ke depan menjalani serangkaian tes medis di Eropa. Tujuannya, bukan untuk bersiap ke turnamen berikutnya, melainkan mencari jawaban atas gangguan kesehatan misterius yang kerap kambuh sepanjang dua musim terakhir.
“Saya akan berada di beberapa kota di Eropa untuk melakukan tes. Saya mengalami beberapa masalah kesehatan yang datang dan pergi. Jadi, saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu saya akan bertemu keluarga saya dan beristirahat sejenak,” ujar Rybakina, melansir Tennis365, Selasa (11/11/2025).
Rybakina memang dikenal sebagai salah satu petenis paling konsisten di tour, namun musim 2024 dan 2025 dipenuhi cobaan fisik. Ia kerap mundur dari turnamen besar karena demam, flu, dan gangguan imunitas yang tidak stabil. Meski demikian, Rybakina tetap menutup musim ini dengan catatan mengesankan: tiga gelar utama, termasuk Ningbo Open dan WTA Finals, sekaligus menorehkan sejarah sebagai pemenang WTA Finals pertama dari Kazakhstan dan Asia.
Baca Juga:
Tumbang dari Elena Rybakina, Aryna Sabalenka Ucapkan Hal Mengejutkan di Final WTA Finals Riyadh
Rivalitas Aryna Sabalenka vs Elena Rybakina Berlanjut di Wuhan Open 2025
Kendati demikian, Rybakina mengaku kemenangan di Riyadh tidak menghapus keinginannya untuk memulihkan diri sepenuhnya.
“Tubuh saya butuh waktu untuk benar-benar pulih. Saya ingin membawa semua energi positif dari Riyadh ke musim 2026 nanti, terutama menuju Australian Open. Tapi untuk sekarang, fokus saya adalah kesehatan,” katanya.
Perjalanan Rybakina memang luar biasa. Di tengah musim yang sempat terhambat, ia tetap menuntaskan tahun 2025 di posisi lima dunia dengan rekor 58 kemenangan dan hanya 19 kekalahan.
Ia juga menjadi unggulan keenam keempat dalam tujuh tahun terakhir yang berhasil menjuarai WTA Finals, mengikuti jejak Caroline Wozniacki, Elina Svitolina, dan Garbiñe Muguruza.
Bagi Rybakina, kemenangan ini bukan sekadar trofi, melainkan pembuktian bahwa ketenangan dan keteguhan hati bisa mengalahkan keterbatasan fisik.
“Ini bukan musim yang mudah. tetapi kemenangan ini memberi saya kekuatan baru untuk terus maju — di lapangan dan dalam hidup,” pungkasnya.
(Budis)








