BANDUNG, TEROPONGMEDIA.ID – Guenther Steiner, mantan kepala tim Haas F1 yang dikenal dengan gaya blak-blakannya, kembali mencuri perhatian publik Formula 1 lewat pernyataannya yang tak biasa.
Dalam sebuah wawancara terbaru, pria asal Italia itu menyebut Gabriel Bortoleto sebagai tandem ideal bagi Max Verstappen, pilihan yang mengejutkan banyak pihak karena ia melewatkan nama-nama yang lebih sering dihubungkan dengan Red Bull seperti Isack Hadjar atau Liam Lawson.
“Saya pasti akan mengambil Max Verstappen,” kata Steiner, melansir formula1, Selasa (4/11/2025).
“Dulu saya pernah mengatakan Oscar Piastri. Tapi sekarang saya akan pilih salah satu rookie, Gabriel Bortoleto. Jadi, bagi saya, duet impian adalah Max dan Gabriel,” ucapnya.
Steiner menilai, kombinasi antara Verstappen dan Bortoleto bisa menghadirkan keseimbangan antara pengalaman dan potensi masa depan.
Verstappen mewakili stabilitas serta kecepatan absolut, sementara Bortoleto, juara Formula 3 2023 dan bintang muda F2 membawa semangat baru yang bisa menjadi fondasi jangka panjang Red Bull.
Secara karakter, keduanya dinilai memiliki mental juara yang mirip: agresif di lintasan, tapi juga metodis dalam memahami data dan strategi. Bortoleto bahkan beberapa kali disebut sebagai “mini Verstappen” di paddock karena gaya mengemudinya yang lugas dan efisien.
Baca Juga:
Jalan Terakhir Max Verstappen Mengejar Gelar Dunia Kelima di Enam Seri Penentu Formula 1 2025
Jika Red Bull benar-benar mempertimbangkan generasi penerus, kombinasi Verstappen–Bortoleto bisa menjadi jembatan ideal antara era dominasi dan regenerasi.
Namun, Steiner tidak berhenti di sana. Ia juga menggambarkan tim impiannya secara lengkap dengan mengadopsi struktur organisasi seefisien Mercedes AMG Petronas dan mempercayakan desain mobil kepada sang maestro, Adrian Newey.
“Untuk desainer mobil, saya pilih Adrian Newey. Saya yakin tim itu akan sangat sukses dan saya yang jadi team principal, tentu saja,” ujarnya.
Meski kini tak lagi aktif di paddock F1 setelah meninggalkan Haas sebelum musim 2024, Steiner masih punya pengaruh besar dalam dunia balap. Ia kini terjun ke MotoGP bersama konsorsium yang mengambil alih tim Red Bull KTM Tech3, tapi tetap mengikuti dinamika F1 dari dekat.
“Sekarang saya senang tidak menjalankan tim F1. Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Kalau ada proyek menarik, mungkin saya akan pertimbangkan. Tapi kembali jadi team principal F1 saat ini? Tidak, terima kasih,” katanya.
Pernyataan Steiner ini bukan hanya mencerminkan selera pribadinya terhadap talenta muda, tapi juga membuka diskusi baru soal masa depan Red Bull. Dengan kontrak Verstappen yang masih berlaku hingga 2028 dan spekulasi regenerasi di kubu junior, duet Verstappen–Bortoleto bisa menjadi skenario menarik bagi masa depan tim dengan kombinasi pengalaman, ambisi, dan bakat yang bisa menjaga dominasi Red Bull tetap hidup lebih lama.
(Budis)










