Walhi: Akumulasi Deforestasi dan Ekspansi Sawit Pemicu Banjir dan Longsor Aceh

banjir aceh
(dok. BPBA)
-

Tidak ada video disisipkan.

JAKARTA, TEROPONGMEDIA.ID — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut, bahwa bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh selama sepekan terakhir disebut bukan semata-mata fenomena alam, melainkan hasil akumulasi panjang kerusakan lingkungan di kawasan hulu.

Walhi mencatat deforestasi, ekspansi kebun sawit, kegiatan pertambangan, hingga praktik tambang emas ilegal menjadi kontributor utama rapuhnya ekosistem yang akhirnya memicu bencana besar di Aceh.

Direktur Walhi Aceh, Ahmad Shalihin menegaskan, bahwa pemerintah harus segera mengambil langkah pemulihan menyeluruh untuk menghentikan siklus bencana yang terus terulang.

“Restorasi ekologis dan pemulihan alam harus segera dilakukan pemerintah,” ujarnya di Banda Aceh, Sabtu (29/11/2025).

Banjir dan longsor mulai terjadi sejak 18 November 2025, menyapu 18 dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 35 warga meninggal dunia, 25 orang dilaporkan hilang, delapan terluka, serta puluhan ribu warga harus mengungsi. Jumlah korban diperkirakan bertambah karena beberapa wilayah masih terisolasi dan belum dapat dijangkau tim gabungan.

Shalihin mengatakan, rangkaian bencana ini menunjukkan bahwa daya dukung alam Aceh telah melemah secara signifikan akibat kerusakan struktural yang berlangsung lama.

Menurutnya, apa yang terjadi bukan sekadar bencana hidrometeorologi, tetapi bencana ekologis yang muncul akibat kebijakan yang terlalu memberi ruang pada investasi ekstraktif.

Baca Juga:

Prabowo Belum Tetapkan Darurat Bencana Nasional, Meski 174 Korban Tewas di Sumatera

7 WNI Tewas dalam Kebakaran Hong Kong, 79 Lainnya Belum Terverifikasi

Ia menjelaskan bahwa hutan dibuka untuk perkebunan skala besar, bukit-bukit dikeruk untuk pertambangan, dan tebing sungai rusak karena aktivitas galian C. Kondisi itu diperparah praktik pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang meningkat dalam dua tahun terakhir, terutama di wilayah hulu.

“Ini bukan musibah alam. Ini bencana ekologis akibat buruknya tata kelola lingkungan hidup dan pemanfaatan SDA. Hutan digunduli, sungai didangkalkan, bukit dikeruk. Pemerintah harus menghentikan akar bencana,” tegasnya.

Pantauan Walhi menunjukkan kerusakan paling signifikan terjadi di beberapa daerah aliran sungai (DAS), terutama di DAS Krueng Peusangan yang berkontribusi pada banjir besar di Aceh Utara dan Bireuen.

Kerusakan serupa juga ditemukan di wilayah lain yang mengalami pembukaan lahan masif, termasuk wilayah dengan pembukaan jalan baru yang mempercepat deforestasi.

Shalihin menjelaskan hilangnya vegetasi penyangga ekologis membuat curah hujan tinggi langsung berubah menjadi debit air besar yang tak mampu diserap tanah. Pada saat yang sama, sungai-sungai besar di Aceh menghadapi sedimentasi berat. Aliran air menjadi dangkal dan mudah meluap ketika hujan lebat turun.

“Sungai-sungai kita sudah tidak berfungsi. Sedimentasi ekstrem membuat daya tampungnya runtuh. Begitu hujan deras datang, air langsung melompat ke permukiman,” ujarnya.

Walhi juga mencatat , sebanyak 99 persen titik PETI berada dalam kawasan DAS. Tebing sungai dilubangi, aliran sungai keruh oleh limbah, dan struktur tanah menjadi sangat rapuh.

“PETI menghancurkan hulu dan kerusakan DAS dan hutan, jadinya tanah labil, longsor mudah terjadi, dan banjir jadi tak terbendung,” kata Shalihin.

Walhi mendesak pemerintah untuk tidak hanya menangani dampak, tetapi menghentikan akar persoalan dengan menghitung ulang seluruh izin yang berkaitan dengan aktivitas yang merusak kawasan hulu.

“Lalu audit menyeluruh perizinan yang berdampak pada kerusakan hulu dan hutan dan harus diberi ruang yang luas untuk partisipasi masyarakat mukim dalam tata kelola lingkungan,” tutupnya.

(Dist)

Baca berita lainnya di Google News dan Whatsapp Channel
Berita Terkait
Berita Terkini
OJK Jabar
Penipuan Investasi Mantan Pegawai Bank Mandiri Taspen di Purwokerto, OJK Minta Korban Segera Melapor
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
500 Musisi Meriahkan Bandung Kota Angklung Festival 2026
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Pameran Persib Hadir di Braga, Suguhkan Identitas Bobotoh Melalui Karya Seni
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
Dihadiri Bupati Bandung, KH Ubaidillah Ruhiat Lantik Wakil Ketua DPR RI Jadi Ketua Alumni Cipasung
maroko brazil
Prediksi Skor Maroko vs Norwegia: Duel Dua Tim Kuda Hitam Piala Dunia 2026
Berita Lainnya

1

Threads Melonjak Pesat, Jadi Penantang X Milik Elon Musk

2

3

Brace Cristiano Ronaldo Warnai Kemenangan Al Nassr atas Al Gharafa di Liga Champions Asia

4

Meski Matic, ini Catatan Berkesan BBM Kijang Kapsul LGX

5

Tips Mengobati Luka Melepuh Akibat Gigitan Tomcat, Jangan Digaruk!
Headline
rupiah hari ini
Rupiah Diprediksi Tembus Rp19.000 Akhir Juni 2026, The Fed Jadi Sorotan!
Farhan Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Farhan: Bandung Siap Jadi Kota Terdepan Implementasi AI Pelayanan Publik
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
Darurat Sampah Tidak Disetujui, Pemkot Bandung Siapkan Solusi Mandiri
dadan
Geser Dadan Hindayana, Prabowo Tunjuk Naniek Deyang Jadi Kepala BGN yang Baru